Cetusan tengah malem

Niatnya aku mau nonton drama buat seneng seneng, lucu lucuan, hepi hepi. Eh ternyata ter-trigger dengan scene yang relate hampir sepuluh tahun yang lalu. It creates a flicker inside, just a flicker tho. It’s a memory anyway, it’s already in a past.

Nonton Start-Up, terutama di episode ini beneran ngingetin jaman jaman kerja di rumah sakit dulu. Mereka ada ngebahas tentang berapa saham yang perlu dipegang CEO, dan apa alasannya CEO perlu pegang sebanyak itu. Equity means power. Keputusan yang dibuat oleh pemimpin ga bisa menyenangkan semua orang, oleh karena itu selain harus udah siap dengan risiko itu, pemimpin juga perlu punya power supaya keputusannya diikuti oleh yang lain. Bukan masalah benar atau salah, tapi tentang kemampuan untuk bikin keputusan. Btw, mendadak jadi inget sama kata kata temen Ma “dalam dunia kerja, ini bukan lagi tentang apa yang benar dan salah, tapi tentang membuat keputusan dan menerima konsekuensinya”.

I was weak. I was powerless. Aku ga pernah punya kemampuan untuk benar benar menjalankan kepusan yang Ma buat karena selalu ada yang veto. So I took detours, lots of detours. Making sure that the company ran despite the hurdles until I just don’t want to do it anymore. Because managing a a company shouldn’t need any detours, a leader shouldn’t do detours to get what needed to be done. But considering everything, I did well tho.

Kangen sih, kerja kayak dulu. It was one of my preferred job, kerja di manajemen untuk ngurus rumah sakit. Tapi kayanya sekarang udah ga feasible lagi, Ma juga udah kapok. Mungkin kalo Ma dulu punya mentor dan punya power yang cukup, pengalaman jadi direktur ga se-traumatis yang kerasa sebelumnya walaupun memang cepat atau lambat Ma bakal keluar juga dari sana, tapi Ma bisa pindah kerja ke rumah sakit lain kalo Ma masih mau. Persis sama konsep sandbox-nya drama itu juga, tentang belajar yang ada mentornya biar diusahain ga jatoh, kalopun jatoh ga sakit banget jadi ga kapok. But it’s okay tho. What’s done is done. Sedihnya sih sekarang kalo ditanya Ma mau kerja apa, atau Ma suka kerja apa, Ma ga punya jawabannya lagi. Target Ma cuma kerja sesuai dengan standar yang baik, ga kerja terlalu berat dan terlalu serius, dan pensiun secepatnya bisa pensiun.

Terus kenapa sampe segitunya nulis tengah malem gini kalo emang udah move on Ma? Ga tau kenapa. I just feel like writing about it. Mungkin nanti bakal ada waktunya Ma balik ke area itu lagi, tapi buat sekarang mungkin nggak dulu. Pelajaran yang Ma dapet lima tahun lebih tetap berharga dan jadi pengalaman penting. Jatuh di aspal juga selama belom meninggal masih bisa jadi ongkos belajar, walaupun aku kalo bisa milih pengen jatuhnya di pasir sih.

Cheers!

0 Responses to “Cetusan tengah malem”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Selamat datang!!

Rizma Adlia Syakurah,

Ini semua tentang Ma dan hal hal yang berputar disekeliling Ma.
tentang seorang Ma.

Mau nge-OOT, sini aja.

Kumpulan Foto,,

Quote yang Ma suka!

Blog fave-nya Ma!!

Kategori!!

Kumpulan cerita Ma,,

Hasil ronde,,

Edan banget, yet, I Love it,,!!

web stats

Makasih banget buat

  • 939.677 orang

Just an encouragement,,

Hindari rokok sebisanya. Sudah merokok? Merokoklah dengan manusiawi.
Di sini anti rokok mas/mbak,,
mari dimatikan rokoknya,,

Berdiskusilah secara dewasa...
Ga terima ad Hominem!
terimanya duit dan makanan,,

Lembar Verifikasi?