Respect is a two way street

Chessy quote, I know. Doesn’t make it any less true tho.

Iya, salah satu mata kuliah yang Ma ajarkan, tentang interprofessional communication, dan tentang mimpi untuk bisa mengembangkan interprofessional education pada dunia akademik dan mengaplikasikannya pada dunia kerja.

Biasanya slide interprofessional education/communication itu dimulai dengan ilustrasi lucu yang captionnya “How can they work together if they don’t learn together?” Kalo di Indonesia, bisa pake pribahasa yang populer “Tak kenal maka tak sayang.”

Kurang lebih intinya, ya gimana mau saling respect kalo nggak pernah ada paparan satu sama lain, nggak tau kerjaan satu sama lain, nggak merasakan kebutuhan terhadap satu sama lain. Minimal ya, kalo udah tau kerjaan satu sama lain dan kenal manusia manusianya, prejudice bisa dikurangin.

Banyak universitas yang berusaha membangun interprofessional education ini dengan bikin kelas kuliah umum bareng di semester awal, ada yang bikin semacam KKN khusus kesehatan dengan variasi profesi kesehatan, ada yang sampe pindahin FKnya ke antara fakultas kesehatan lain supaya lebih gampang bikin kegiatan yang kolaborasi satu sama lain (CMIIW buat yang ini, siapa tau alesannya karena dapet tanahnya disana, bukan karena tujuan ini 😂), dll.

Ma rasa itu keren banget, kenyataan bahwa fakultasnya peduli dengan terciptanya hubungan baik antar profesi kesehatan, karena akhirnya kan targetnya patient safety di rumah sakit.

Selama ini, di kelas yang Ma isi, pada topik interprofessional communication malah diisi setengahnya tentang konsep interprofessional education itu sendiri. Kenapa sampe “sekadar” saling hormat, komunikasi, dan kerjasama antar profesi bisa sampe dijadiin bahasan sendiri? Bukannya emang harusnya kita jadi manusia emang baik? Di sekolah, di tempat kerja, nggak peduli dimana kita ada, harus tetap baik dan menghargai satu sama lain kan?

Karena ternyata yang “sekadar” itu, nggak mudah saat dipraktekkan di lapangan. Saat koas, saat mulai kerja di klinik/puskesmas/RS, kita terpengaruh sama hirarki dan prejudice yang familiar di masyarakat, dan mungkin di kita sendiri.

Kadang muncul rasa superior, menolak untuk membantu pekerjaan rekan profesi lain sampe bilang “itu bukan kerjaan aku, masa aku dimintain ngerjain itu? Menghina ya? 😤”

Kadang muncul rasa inferior, yang membuat muncul kalimat “enak banget ya, iya deh aku kan cuma … [isi sendiri] 😢”

Kadang muncul rasa kompetisi, ingin terlihat lebih pintar di depan pasien, sehingga bilang depan pasien “waduh, … [isi sendiri] -nya salah nih, nanti saya yang benerin bu/pak. 😇”

Masih banyak yang sering kejadian di lapangan, dengan lebih banyak variasi motif dan latar belakang traumatis selama pendidikan yang membuat kolaborasi antar profesi jadi sulit.

Sedihnya lagi, kadang masyarakat malah menumbuh-kembangkan gesekan yang ada. Seolah olah memang wajar ada yang tinggi ada yang rendah, ada yang bos ada yang anak buah, ada yang pinter ada yang bego.

Omongan omongan ga penting semacam “oh dulu gak terima di … ya, makanya jadi … sekarang?” atau “aduh kamu kepinteran, sayang jadi … harusnya jadi … aja” itu menyakitkan lho, emang gak boleh ada orang yang passion dan cita-citanya di sana? Yang mulutnya nyinyir siapa, yang kena paitnya siapa.

Terus mulainya dari mana? Dari kita dong. Ma ga mau bohong dan bilang kalo nggak trauma dengan beberapa profesi kesehatan selama koas, tapi saat kerja, jangan sampe perbuatan orang orang itu bikin kita jadi ga adil sama orang lain yang kebetulan profesinya sama dengan yang nyakitin kita dulu. Liat profesi lain spesial-nya apa, pikirin kalo gak ada mereka gak jalan rumah sakit/klinik kita ini, we’re not the center of universe, other people exist too.

Semoga besok besok, mahasiswa yang Ma kasih tugas bikin tribute untuk profesi di lingkungan kesehatan, nggak lupa untuk hormat sama profesi profesi itu saat mereka mulai koas, internship, dan kerja nanti.

Semoga kita yang punya prejudice dan mindset bahwa satu profesi lebih mulia/keren/tinggi/baik dibandingkan yang lain, bisa mulai menyadari pentingnya profesi lain itu, kalopun tetep ga mau berubah, simpen di hati aja, jangan dikeluarin.

Semoga. ❤️

0 Responses to “Respect is a two way street”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Selamat datang!!

Rizma Adlia Syakurah,

Ini semua tentang Ma dan hal hal yang berputar disekeliling Ma.
tentang seorang Ma.

Mau nge-OOT, sini aja.

Kumpulan Foto,,

Quote yang Ma suka!

Blog fave-nya Ma!!

Kategori!!

Kumpulan cerita Ma,,

Hasil ronde,,

Edan banget, yet, I Love it,,!!

web stats

Makasih banget buat

  • 913.349 orang

Just an encouragement,,

Hindari rokok sebisanya. Sudah merokok? Merokoklah dengan manusiawi.
Di sini anti rokok mas/mbak,,
mari dimatikan rokoknya,,

Berdiskusilah secara dewasa...
Ga terima ad Hominem!
terimanya duit dan makanan,,

Lembar Verifikasi?