Why now?

Hahahahaha, kayaknya Ma lagi sering banget nanya pertanyaan ini deh. Kenapa sekarang? Kok dulu nggak sih? Mulai dari nanya kenapa baru sekarang berani nyanyi Because of You lagi? Kenapa baru sekarang mau olahraga? Kenapa Ma gak dari dulu aja sekolah lagi? Kenapa baru sekarang punya motivasi buat ada di FK?

Ah, btt. Sebenernya kepikiran “Why now?” sekarang ini bukan tentang salah satu diatas itu sih, tapi tentang satu buku yang gak tau kenapa Ma pilih untuk gak baca atau gak ingat kalo Ma udah baca. Yang pasti dulu Ma udah pernah beli. Aneh banget pokoknya. Judul bukunya kalo di Bahasa Indonesia, ‘Di tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis’, yang ditranslate dari ‘By the River Piedra I Sat Down and Wept‘.

piedra3

Buku itu salah satu dari buku Paulo Coelho yang Ma beli borongan di sekitar tahun 2007-2008, Ma sampe ngecek di arsip blog kira-kira Ma belanjanya kapan lho. Kalo ada temen Ma yang nanya buku apa yang direkomendasikan dari kumpulan buku Paulo Coelho, Ma kayanya beneran gak bakal pernah ngasih rekomendasi buku ini. Soalnya kayaknya Ma pernah baca beberapa halaman dulu, soalnya Ma tau nama pemeran utamanya. Tapi Ma sama sekali gak inget alur ceritanya.

‘By the River Piedra I Sat Down and Wept‘ ini semacam semi-trilogi dengan ‘Veronica Decides to Die‘ sama ‘The Devil and Miss Prym‘ yang kalo gak salah dulu Ma beli barengan di TM Bookstore, dan satu satunya cerita yang Ma gak inget itu, ya yang judulnya panjang itu. 😛

Jadi, waktu Ma ke Bandung beberapa hari yang lalu, Ma ngebawa buku itu karena takut bosen di jalan. Soalnya naek travel kan? Bisa 3-4 jam, dan kalo gak ada bacaan bisa mati gaya beneran. Sebenernya buku itu punya Sara, yang dibelinya 5-6 bulan yang lalu di TM Bookstore juga, dan dia belinya versi Bahasa Inggrisnya. Ma sih jarang banget beli buku yang versi Bahasa Inggris, soalnya  biasanya lebih mahal dan Ma pikir bakal lebih susah bacanya. Tapi mostly karena mahal sih. 😆

Sebenernya sebelum berangkat Ma sempet baca satu halaman di tengah-tengah, halaman 34 kalo gak salah. Kayanya menarik. Jadi langsung aja Ma angkut ke dalam tas. Mulai baca dari awal di pesawat dan selesai 1/3-nya begitu pesawat sampe, nyelesainnya di travel menuju ke Bandung. Ternyata, ceritanya bagus dan bikin Ma gak bisa berenti bacanya. Like, bener bener bener bagus!

Nah, itu yang bikin Ma bertanya-tanya. Kalo emang sebagus itu, dan dulu Ma juga sebenernya pernah beli, kenapa baru sekarang Ma bacanya sampe selesai? Lebih tepatnya buku itu novel pertama selama 2-3 tahun ini yang berhasil Ma selesai-baca-in dalam satu hari. Biasanya, karena udah faktor U, Ma bawaannya cepet bosen, gak se-semangat dulu lagi buat baca novel.

Mungkin karena pake Bahasa Inggris? Bisa jadi sih. Karena sebenernya ada ekspresi tertentu yang bisa lebih dapet dengan Bahasa Inggris. Tapi sebenernya lebih mungkin karena topiknya sih. Kenapa? Topiknya kan gak berubah? Well. I have.

Topiknya itu tentang usaha seorang perempuan (namanya Pilar) yang agak cupu tapi bertingkah cool dan independen, hidup dan besar di satu tempat, gak pernah keluar dari sana, sekolah, kerja, dan semua kehidupannya disana, untuk menerima cinta. Bukan, bukan mencari cinta. Karena dia punya orang yang naksir banget sama dia.

Masalahnya, orang itu, apa ya namanya, terlalu gak safe? Bukan tipe yang bisa kita diajak ke rumah dan dikenalin dan disukain sama orang tua, hidup mapan, bahagia dan stabil selamanya. Cowo itu bilang kalo dia suka sama Pilar, lebih tepatnya dia bilang cinta, dan Pilar ketakutan. Dia takut bukan karena dia gak suka, tapi karena disukai sama orang yang sebenernya kita suka tapi gak safe itu rasanya dilema banget. Biasanya yang bakal kita lakukan itu ya bikin pagar-garis pembatas, apalah namanya, supaya kita gak bisa suka sama dia. Karena kita udah tau konsekuensi yang bisa kejadian dari ini. Penderitaan.

Realistis aja, sama orang yang safe-pun masih susah, apalagi yang gak safe, kan? Pilar, dan Ma, gak butuh kerepotan yang lebih dari yang udah bisa didapat. Oleh karena itu Pilar, dan Ma juga, memilih buat berusaha bikin pembatas itu, untuk menjaga terjadinya sesuatu yang kita udah tau bakal kejadian. Tapi, ada juga sudut pandang lain dari kenyataan itu, dan itu salah satu quote favorite Ma dari buku itu;

A fall from the third floor hurts as much as a fall from the hundredth. If I have to fall, may it be from a high place.” – Paulo Coelho

Apa sebenernya ini quote yang baru sekali Ma denger/baca? Sebenernya nggak. Sebenernya kalimat yang mirip dengan ini pernah Ma denger di tahun 2011, oleh mas Aidil Akbar terkait dengan risiko investasi, dan sering banget Ma ulangi ke temen-temen Ma, intinya kalo dengan risiko pesawat jatuh yang sama, kita lebih mending pergi ke Malay atau ke Amerika? Tapi kenapa Ma gak pernah ngambil sudut pandang yang lain ya? 😛

piedra1

Nah, itu dia kenapa-nya. Mungkin dulu Ma terlalu bahagia atau oblivious/naive? untuk bisa ngerti dan relate dengan ceritanya Pilar. Tahun 2007-2008 kan? Itu periode bego-nya Ma soalnya. Bahagia sih awalnya, seru sih rasanya, pertama kali punya pacar yang de facto soalnya. But it ended, with lots and lots of regrets and pain. Jadi, baca buku itu sekarang rasanya bener-bener bikin Ma ngerasa relatedsuper related.

Sekarang Ma gak butuh cinta yang ribet dan penuh perjuangan. Ma udah terlalu tua untuk itu. Ma gak butuh hubungan yang naik-turun-seru-thrilling-apapunlah itu namanya, Ma mau sama siapa aja yang suka sama Ma, selama orangnya safe, supaya gak repot lagi dengan berbagai resistensi yang bakal ada. Itu yang sering banget Ma bilang 1-2 tahun ini, semacam bikin mantra, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Ma bisa jadi orang yang begitu. Pragmatis.

piedra2

Dan karena cerita ini berakhir bahagia, Pilar akhirnya memutuskan atau akhirnya gagal menolak untuk jatuh cinta dengan pasangannya, dan berjuang demi bisa bersama pasangannya, akhirnya mereka hidup bahagia di akhir ceritanya. Membahagiakan, mengharukan, juga bikin Ma ikutan mikir kalo Ma juga bisa kayak gitu. Tapi sampe sekarang Ma masih belom punya keputusan. Mau balik ke Ma yang dulu, atau tetap bakal mengulang mantra yang sama setiap hari.

Well, what do you think I should do?

 

NB: Ini beberapa quote yang Ma suka dari ‘By the River Piedra I Sat Down and Wept‘, enjoy!

“Waiting is painful. Forgetting is painful. But not knowing which to do is the worst kind of suffering.” ― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept

“It’s risky, falling in love” 

“I know that. I’ve been in love before. It’s like a narcotic. At first it brings the euphoria of complete surrender. The next day, you want more. You’re not addicted yet, but you like the sensation, and you think you can still control things. You think about the person you love for two minutes, and forget them for three hours.”

“But then you get used to that person, and you begin to be completely dependent on them. Now you think about him for three hours and forget him for two minutes. If he’s not there, you feel like an addict who can’t get a fix. And just as addicts steal and humiliate themselves to get what they need, you’re willing to do anything for love.”

“What a horrible way to put it” ― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept

“And happiness is something that multiplies when it is divided.” ― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept

“Love perseveres. It’s men who change.” ― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept

“A boy and a girl were insanely in love with each other,” my mother’s voice was saying. “They decided to become engaged. And that’s when presents are always exchanged.

The boy was poor–his only worthwhile possession was a watch he’d inherited from his grandfather. Thinking about his sweetheart’s lovely hair, he decided to sell the watch in order to buy her a silver barrette.

The girl had no money herself to buy him a present. She went to the shop of the most successful merchant in the town and sold him her hair. With the money, she bought a gold watchband for her lover.

When they met on the day of the engagement party, she gave him the wristband for a watch he had sold, and he gave her the barrette for the hair she no longer had” ― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept 

1 Response to “Why now?”


  1. 1 Klinik Aborsi Resmi September 26, 2015 pukul 12:19 pm

    I’ve learn several just right stuff here. Certainly worth bookmarking for revisiting.
    I wonder how a lot attempt you place to make any such
    great informative web site.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Selamat datang!!

Rizma Adlia Syakurah,

Ini semua tentang Ma dan hal hal yang berputar disekeliling Ma.
tentang seorang Ma.

Mau nge-OOT, sini aja.

Kumpulan Foto,,

Quote yang Ma suka!

Blog fave-nya Ma!!

Kategori!!

Kumpulan cerita Ma,,

Hasil ronde,,

Edan banget, yet, I Love it,,!!

web stats

Makasih banget buat

  • 769,735 orang

Just an encouragement,,

Hindari rokok sebisanya. Sudah merokok? Merokoklah dengan manusiawi.
Di sini anti rokok mas/mbak,,
mari dimatikan rokoknya,,

Berdiskusilah secara dewasa...
Ga terima ad Hominem!
terimanya duit dan makanan,,

Lembar Verifikasi?