Tugas IKM; Tinjauan Pustaka Rokok dan Peraturan Terkait Rokok

Dari TA koas IKM yang pembimbing 1-nya Ma. Semoga berguna. Buat yang perlu daftar pustaka-nya bisa tulis alamat email-nya di komentar.

Thanks. 😀

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Rokok dan Komposisi Rokok

Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus, termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.4 Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.

Rokok berdasarkan bahan baku atau isinya dibagi menjadi tiga jenis menurut Sitepoe, M (1997), yaitu:4

  1. Rokok Putih adalah rokok dengan bahan baku atau isi hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

  2. Rokok Kretek adalah rokok dengan bahan baku atau isi berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

  3. Rokok Klembak adalah rokok dengan bahan baku atau isi berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

Rokok berdasarkan penggunaan filter dibagi dua jenis :

1. Rokok Filter (RF) : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.

2. Rokok Non Filter (RNF) : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

Satu – satunya negara di dunia yang menghasilkan rokok dengan bahan baku tembakau dan cengkeh hanyalah Indonesia, dengan sebutan rokok kretek dengan perbandingan tembakau dan cengkeh adalah 60:40. Sedangkan pembungkusannya, rokok di gulung dengan berbagai jenis pembungkus, ada yang menggunakan kertas, misalnya rokok kretek dan rokok putih, daun nipah, pelepah tongkol jagung atau disebut rokok klobot, dan dengan tembakau sendiri atau disebut rokok cerutu. Lapisan pembungkus rokok kretek dibuat dua lapis sehingga minyak cengkih ditahan oleh lapisan paling dalam, sedangkan pembungkus lapisan luar tidak tembus oleh minyak cengkeh sehingga warna rokok tetap putih. Rokok biasanya terdiri dari rokok dengan atau tanpa filter. Filter digunakan untuk menyaring bahan – bahan yang berbahaya yang dalam asap rokok yang dihisap.

Pada saat rokok dihisap komposisi rokok dipecah menjadi komponen lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama dengan komponen lainnya terkondensasi. Dengan demikian, komponen asap rokok yang dihisap oleh perokok terdiri atas bagian gas (85%) dan bagian partikel (15%).5

Rokok merupakan produk yang berbahaya karena di dalam rokok terkandung kurang lebih 4.000 zat kimia, 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya bersifat karsinogenik.3 Zat-zat beracun yang terdapat dalam rokok antara lain: 3,5

  1. Nikotin, merupakan zat yang dapat meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi, dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan pada pemakainya. Setiap batang rokok rata-rata mengandung nikotin 0,1-1,2 mg nikotin dan jumlah tersebut mampu mencapai otak dalam waktu 15 detik.

  2. Karbon monoksida (CO), gas ini memiliki kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan hemoglobin dalam sel-sel darah merah sehingga karbon monoksida ini dapat mengurangi suplai oksigen tubuh. Kadar gas CO dalam darah bukan perokok kurang dari 1%, sementara dalam darah perokok mencapai 4 – 15%.

  3. Tar, umumnya digunakan sebagai pelapis jalan atau aspal. Pada rokok atau cerutu, berupa penumpukan zat kapur, nitrosamine, dan B-naphtylamine, serta cadmium, dan nikel yang bersifat karsinogenik. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin, akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna cokelat pada permukaan gigi, saluran pernapasan, dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24 – 45 mg.

  4. Arsenik, sejenis unsur kimia berbahaya yang digunakan untuk membunuh serangga. Arsenik terdiri dari unsur-unsur nitrogen oksida dan ammonium karbonat yang dapat merusak kerja tubuh.

  5. Ammonia, merupakan gas tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Ammonia sangat mudah memasuki sel-sel tubuh.

  6. Formic Acid, zat yang tidak berwarna, bisa bergerak bebas dan dapat mengakibatkan lepuh. Cairan ini sangat tajam dan baunya menusuk. Bertambahnya zat tersebut dalam peredaran darah akan mengakibatkan pernafasan menjadi cepat.

  7. Acrolein, adalah sejenis zat tidak berwarna, sebagaimana aldehid. Zat tersebut sedikit banyak mengandung alkohol. Cairan ini sangat menganggu kesehatan.

  8. Hydrogen Cyanide,merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa. Zat ini termasuk zat yang paling ringan, mudah terbakar, dan sangat efisien untuk menghalangi pernafasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya.

  9. Nitrous Oksida, adalah sejenis gas yang tidak berwarna, yang apabila terhisap, dapat menyebabkan rasa sakit.

  10. Formaldehyde, merupakan zat yang banyak digunakan sebagai pengawet laboratorium.

  11. Phenol, yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organik, seperti kayu dan arang. Phenol terikat pada protein, yang dapat menghalangi aktivitas enzim.

  12. Acetol merupakan hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol.

  13. Hydrogen sulfide,sejenis gas beracun yang dapat menghalangi oksidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen).

  14. Pyridine adalah cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam yang biasanya digunakan sebagai pelarut dan pembunuh hama.

  15. Methyl Chloride, merupakan compound organic yang dapat beracun.

  16. Methanol, meminum dan menghisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan.

II.2 Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan

Pengaruh rokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit, seperti penyakit kardiovaskular, penyakit serebrovaskular, berbagai jenis kanker, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin. Penelitian klasik dokter-dokter di Inggris yang dipantauselama 40 tahun tentang kematian per 100.000 orang akibat penyakit jantung iskemikyang berhubungan dengan kebiasaan merokok adalah 1025 kasus kematian denganjumlah rokok yang dihisap lebih dari 25 batang per hari. Sedangkan 802 kasuskematian dengan jumlah rokok yang dihisap 1-14 batang per hari. Bagi orang yang tidak merokok, asap tembakau selalu tidak menyenangkankarena berbau, mencekik, dan mengiritasi hidung dan mata. Tetapi baru dalam 20 tahun terakhir penelitian menunjukkan bahwa menghirup asap rokok orang lain juga sangat membahayakan.

Melalui resolusi tahun 1983, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia setiap tahun.Bersumber dari data Yayasan Jantung Indonesia tahun 2010, sebanyak 20-60% lebih penduduk pria dunia adalah perokok dan 10-50% untuk wanitanya. Di Indonesia diperkirakan 50-59% pria adalah perokok, dan pada wanita mencapai 10%. Di kalangan remaja kebiasaan merokok juga sudah demikian mengkhawatirkan, 3-60% remaja (30% remaja pria dan mencapai 10% remaja wanita) mengkonsumsi rokok.3

Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia). Sedangkan, pada saluran napas kecil, terjadi peradangan sehingga terjadi penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal inilah yang menjadi dasar terjadinya penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Berdasarkan penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa merokok merupakan faktor resiko utama terjadinya PPOK, temasuk emfisema paru, bronkitis kronik, dan asma.2,6

Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Juga tar berhubungan dengan resiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering.

Banyak penelitian telah membukttikan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, WHO melaporkan lebih dari setengah kematian disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah, dimana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Survey Depkes RI tahun 1986 dan 1992 mendapatkan bahwa peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 % menjadi 16%. Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung tersebut. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer.5

Asap yang dihembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif. Telah ditemukan 4000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 43 jenis diantaranya bersifat karsinogenik, dimana bahan racun ini lebih banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping dari pada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan-bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti.6

II.3 Kebijakan Terkait Rokok

II.3.1 Kebijakan WHO-FCTC

WHO-FCTC adalah suatu konvensi atau treaty, yaitu suatu bentuk hukum internasional dalam pengendalian masalah tembakau, yang mempunyai kekuatan mengikat secara hukum (internationally legally binding instrument) bagi negara-negara yang meratifikasinya. Naskah FCTC dirancang sejak tahun 1999 dan selesai disusun oleh WHO pada bulan Februari 2003 setelah melalui enam kali pertemuan negosiasi internasional dan beberapa kali pertemuan-pertemuan regional. Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam semua pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh Intergovernmental Negotiating Body (INB) di Geneva (sebanyak enam kali), maupun dalam pertemuan regional antara negara-negara anggota WHO Kawasan Asia Tenggara (WHO SEARO) dan ASEAN. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Departemen Kesehatan, Departemen Luar Negeri, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Keuangan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Naskah FCTC telah disepakati secara aklamasi dalam sidang WHA (World Health Assembly), yaitu forum pengambilan keputusan tertinggi WHO pada bulan Mei 2003. FCTC dinyatakan efektif apabila telah ada minimal 40 (empat puluh) negara yang meratifikasinya. WHO dalam upayanya mengantisipasi serbuan rokok dan tembakau ke negara-negara berkembang menyelenggarakan Framework Convention Tobacco Control (FCTC). WHO-FCTC merupakan perjanjian internasional pertama yang dinegosiasikan di bawah naungan WHO. WHO-FCTC dikembangkan untuk menanggapi globalisasi epidemi tembakau dan merupakan perjanjian berbasis bukti yang menegaskan kembali hak semua orang untuk standar kesehatan tertinggi. Konvensi ini merupakan tonggak untuk promosi kesehatan masyarakat dan memberikan dimensi hukum baru untuk kerjasama kesehatan internasional.2,5

WHO-FCTC bertujuan untuk melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan, dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau, serta paparan terhadap asap tembakau.14 Pokok-pokok kebijakan FCTC yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi masyarakat antara lain, 1) Peningkatan cukai; 2) Larangan iklan menyeluruh; 3) Penerapan Kawasan Tanpa Rokok yang komprehensif; 4) Peringatan kesehatan berbentuk gambar; 5) Program berhenti merokok dan; 6) Pendidikan masyarakat.1

WHO-FCTC dimana dalam buku panduannya dijelaskan mengenai strategi pengendalian bahaya tembakau atau yang lebih dikenal dengan MPOWER yang terdiri dari 6 upaya pengendalian bahaya tembakau yang meliputi: 1) Monitor prevalensi penggunaan tembakau dan pencegahannya; 2) Perlindungan terhadap asap tembakau; 3) Optimalisasi dukungan untuk berhenti merokok; 4) Waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau; 5) Eliminasi iklan, promosi dan sponsor tembakau serta; 6) Raih kenaikan cukai tembakau.2Di Indonesia sendiri pemerintah telah menyusun berbagai peraturan yang mengatur perlindungan terhadap masyarakat akibat bahaya merokok, salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan.3Indonesia sebagai salah satu inisiator WHO FCTC dan pemimpin ASEAN justru belum meratifikasi WHO FCTC ini. Hal ini dikarenakan penanggulangan masalah rokok di Indonesia saat ini masih merupakan dilema yang sulit untuk dipecahkan, di satu sisi rokok merupakan pemasok devisa terbesar, yaitu sekitar Rp.17 triliun. Namun di sisi lain bahaya merokok bagi kesehatan sangat besar sekali.5,7

II.3.2 Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia

II.3.2.1. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan disusun sebagai pelaksanaan ketentuan pasal 44 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dalam rangka menimbang bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya pengamanan .Peraturan pemerintah ini merupakan revisi dari Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2000 tentang pengendalian tembakau. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003 mencakup aspek yang berkaitan dengan ukuran dan jenis pesan peringatan kesehatan, pembatasan waktu bagi iklan rokok di media elektronik, pengujian kadar tar dan nikotin. Peraturan Pemerintah ini tidak memuat pembatasan kadar maksimum tar dan nikotin.

Pemerintah Indonesia berupaya untuk meningkatkan penanggulangan bahaya akibat merokok dan implementasi pelaksanaannya di lapangan. Hal ini dilakukan agar upaya penanggulangan tersebut lebih efektif,efisien, dan terpadu, maka diperlukan peraturan perundang-undangan dalam bentuk Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan, dalam hal ini Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003. Peraturan pemerintah ini bertujuan untuk mencegah penyakit akibat penggunaan rokok bagi individu dan masyarakat dengan melindungi kesehatan masyarakat terhadap insidensi penyakit yang fatal dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok, melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap rokok, dan meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, kemampuan dan kegiatan masyarakat terhadap bahaya kesehatan terhadap penggunaan rokok. Penyelenggaraan pengamanan rokok bagi kesehatan dilaksanakan dengan pengaturan meliputi: 1) kandungan kadar nikotin dan tar; 2) persyaratan produksi dan penjualan rokok; 3) persyaratan iklan dan promosi rokok; 4) penetapan kawasan tanpa rokok.10,11

II.3.2.2 Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 7 Tahun 2009

Peraturan Daerah Kota Palembang No. 7 Tahun 2009 dibuat sebagai upaya preventif guna memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat perokok dan bukan perokok, karena asap rokok merupakan salah satu zat adiktif yang dapat membahayakan kesehatan manusia, baik perokok aktif maupun perokok pasif dan perlu adanya pengaturan mengenai kawasan tanpa rokok.6 Penetapan kawasan tanpa roko berazaskan keseimbangan kesehatan manusia dan lingkungan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan dan transparansi serta akuntabilitas. Kawasan tanpa rokok ini ditetapkan berdasarkan prinsip bahwa 100% kawasan tersebut merupakan kawasan tanpa rokok, tidak ada ruang merokok di tempat umum atau tempat kerja tertutup, dan pemaparan asap rokok pada orang lain melalui kegiatan merokok, atau tindakan mengizinkan dan atau membiarkan orang merokok di kawasan tanpa rokok adalah bertentangan dengan hukum.7

Peraturan daerah ini bertujuan untuk memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya paparan asap rokok orang lain, memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat, serta melindungi kesehatan masyarakat secara umum dari dampak buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung.7

Berdasarkan Perda Kota Palembang No. 7 Tahun 2009 pasal 8, ada tujuh kawasan yang termasuk dalam kawasan tanpa rokok, yaitu tempat umum, tempat kerja, tempat ibadah, arena kegiatan anak – anak, angkutan umum, tempat pelayanan kesehatan dan termasuk kawasan proses belajar-mengajar. Institusi kesehatan dalam hal ini Universitas Sriwijayamerupakan salah satu kawasan belajar-mengajar yang merupakan tempat yang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar atau pendidikan dan pelatihan yang seharusnya juga termasuk dalam kawasan tanpa rokok.8,9

II.3.3 Perbandingan Kebijakan FCTC, PP No. 19 Tahun 2003, dan Perda Palembang No. 7 Tahun 20095,7,8,9,10,11

Tabel 1. Perbandingan Kebijakan FCTC, PP No. 19 Tahun 2003, dan Perda

Palembang No. 7 Tahun 2009

No.

Perbandingan

FCTC

PP No.19 Th. 2003

Perda Palembang No. 7 Th. 2009

1.

Tujuan

Melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan, dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau, serta paparan terhadap asap tembakau.

Mencegah penyakit akibat penggunaan rokok bagi individu dan masyarakat dengan:

  1. Melindungi kesehatan masyarakat terhadap insidensi penyakit fatal yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok.

  2. Melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap rokok.
  3. Meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, kemampuan, dan kegiatan masyarakat terhadap bahaya kesehatan akibat penggunaan rokok
  1. Memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya paparan asap rokok orang lain.
  2. Memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan seha bagi masyarakat.
  3. Melindungi kesehaan masyarakat secara umum dari dampak buruk merokok baik langsung maupun tidak langsung.

2.

Kawasan tanpa rokok

Tempat kerja indoor, angkutan umum, tempat umum indoor, dan sebagaimana mestinya, tempat umum lainnya a. Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, dan tempat yang secara spesifik, sebagai tempat proses belajar-mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.

b. Disediakan tempat khusus untuk merokok.

a. Tempat umum (ruang tertutup), tempat kerja (ruang tertutup), tempat ibadah, arena kegaitan anak-anak, angkutan umum, kawasan proses belajar-mengajar, tempat pelayanan kesehatan.

b. Tidak disediakan tempat khusus untuk merokok.

3.

Kebijakan harga dan pajak tembakau

Pajak dan harga tembakau dinaikkan agar konsumsi tembakau menurun Tidak ada

Tidak ada

4.

Iklan dan promosi rokok Terdapat larangan total terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok. Larangan terhadap pembatasan waktu, isi, dan waktu tayangan iklan. Larangan penjualan dan promosi rokok di kawasan bebas rokok.

5.

Label dan peringatan rokok
  • Harus ada di setiap bungkus.

  • Tulisan harus jelas, besar, harus > 50% dari sisi kemasan rokok atau tidak < 30%

Harus ada di kemasan rokok

  • Tulisan peringatan ditentukan
  • Ukuran tulisan sekurang-kurangnya 15% dari luas total iklan.
Tidak ada

6.

Pencantuman kadar nikotin dan tar

Perlu diinformasikan Perlu diinformasikan Tidak ada

7.

Penjualan dan promosi terhadap anak-anak

Terdapat larangan terhadap penjuualan ataupun promosi rokok dalam bentuk apapun kepada anak-anak

Tidak ada larangan khusus, hanya terdapat pernyataan bahwa penjualan rokok perlu diatur agar tiidak memberikan kemudahan bagi anak-anak

Tidak ada

8.

Ketergantungan tembakau

Mengharuskan tiap negara konvensi utnuk membangun program untuk mengatasi ketergantungan tembakau. Tidak ada

 

Tidak ada.

9.

Penyelundupan Ketentuan mengenai label rokok agar mencantumkan negara tempat memproduksi dan negara temapt penjualan rokok tersebut. Tidak ada ketentuan yang mengatur Tidak ada

10.

Pembinaan dan pengawasan

Mengharuskan tiap negara memberikan laporan berkala.

Pengawasan oleh Menteri terkait, kepala BPOM, peraturan perundangan yang berlaku.

Walikota dan peraturan daerah yang berlaku.

Dari pembahasan di atas, bila dibandingkan kovensi yang dibuat WHO (WHO-FCTC) dengan PP No.19 Tahun 2003, konvensi WHO lebih baik daripada PP Nomor 19 Tahun 2003. Hal ini berdasarkan pada pembahasan di atas, dimana ada beberapa peraturan yang kurang pada PP Nomor 19 Tahun 2003. Salah satunya mengenai larangan iklan rokok. Ketentuan yang dibuat WHO terlihat lebih efektif karena menjangkau aspek-aspek pemasaran, dan lain-lain.

Selain itu, pada PP Nomor 19 Tahun 2003 aturan mengenai kawasan bebas rokok tidak selengkap Perda Palembang. Hal ini disebabkan pada Perda terdapat larangan total mengenai penyediaan tempat khusus merokok, penyediaan asbak, bahkan iklan dan promosi di kawasan bebas rokok.

Maka dari itu, sebaiknya pemerintah Indonesia segera meratifikasi WHO-FCTC, sehingga angka pemakaian rokok dapat menurun dan dampak paparan asap rokok berkurang.

II.4 Penetapan Kawasan Tanpa Rokok1,5,8,11

Kawasan Tanpa Rokok adalah tempat atau ruangan yang dinyatakan dilarang untuk merokok, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan rokok. Penetapan kawasan ini merupakan upaya perlindungan untukmasyarakat terhadap risiko ancamangangguan kesehatan karenalingkungan tercemar asap rokok.Penetapan Kawasan Tanpa Rokok ini perlu diselenggarakan di tempat umum seperti fasilitaspelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak – anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat lain yang ditetapkan, untuk melindungi masyarakat yang ada dari asap rokok.7

Sasaran Kawasan Tanpa Rokok adalah di tempat pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).7

Kawasan belajar-mengajar merupakan salah satu tempat yang wajib menjadi kawasan tanpa rokok. Dengan alasan itulah, kawasan belajar-mengajar, dalam hal ini institusi pendidikan Universitas Sriwijaya umumnya khususnya menjadi sasaran promosi kesehatan sesuai dengan kebijakan peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok mulai dari pimpinan/penanggung jawab/pengelola tempat proses belajar mengajar, peserta didik/mahasiswa, tenaga kependidikan (dosen), dan unsur universitas/fakultas lainnya (tenaga administrasi, pegawai).7

II.5 Perubahan Perilaku Menurut WHO5,14,15

Adapun kaitan perubahan perilaku dengan komitmen mengenai kawasan

tanpa rokok seperti yang diuraikan oleh WHO dalam beberapa bentuk perubahan

perilaku, yaitu:

a. Perubahan Alamiah

Perilaku manusia selalu berubah. Sebagaian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat yang ada di dalamnya juga akan mengalami perubahan. Misalnya, kemajuan teknologi di bidang industri rokok, dulu masyarakat untuk merokok menggunakan daun kemudian berubah menggunakan kertas (rokok kretek).

b. Perubahan Terencana

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek. Misalnya, Pak Surko adalah perokok berat karena pada suatu saat ia terserang batuk-batuk yang sangat mengganggu, maka ia memutuskan untuk mengurangi rokok sedikit demi sedikit, dan akhirnya berhenti merokok

c. Kesediaan untuk Berubah

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut (berubah perilakunya), dan sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda – beda.

II.6Perilaku Merokok dan Faktor-Faktor Yang Mempersulit Berhenti Merokok3,6,12,13

II.6.1 Perilaku Merokok

  1. Pengaruh orangtua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia.

  1. Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman – teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.

  1. Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah.

  1. Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

Perubahan perilaku manusia terhadap rokok dimulai dari subjek mengenal dan mengetahui rokok terlebih dahulu (Awareness), selanjutnya subjek mulai tertarik terhadap rokok (Interest), setelah itu subjek mulai menimbang-nimbang keuntungan dan kerugian dari rokok terhadap dirinya (Evaluation), kemudian subjek mulai mencoba berprilaku merokok (Trial), dan akhirnya subjek telah berperilaku baru berupa merokok yang telah disesuaikan dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap rokok (Adoption).

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja. Secara umum menurut Kurt Lewin, bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri, juga disebabkan faktor lingkungan. Sebagai contoh, fenomena yang tampak dari mahasiswa adalah kecenderungan untuk berperilaku merokok di daerah umum di area kampus. Mahasiswa tersebut cenderung berkumpul dengan teman-temannya saat merokok pada saat jam kosong kuliah dan setelah makan. Adanya fenomena perilaku kolektif dari perilaku merokoknya. Apabila dalam kelompok tersebut satu mahasiswa merokok maka mahasiswa yang lain akan merokok pula begitu juga dengan para pegawai dan dosen yang merokok diwilayah kampus. Hal ini disebabkan adanya hukum anonimitas. Padahal dengan kondisi tersebut sangat mengganggu orang lain yang bukan perokok.

Faktor dari dalam remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja. Remaja mulai merokok dikatakan oleh Erikson berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya.6 Dalam masa remaja ini, sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Upaya-upaya untuk menemukan jati diri tersebut, tidak semua dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai cara kompensatoris. Seperti yang dikatakan oleh Brigham bahwa perilaku merokok bagi remaja merupakan perilaku simbolisasi.12 Simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya tarik terhadap lawan jenis.

Di sisi lain, saat pertama kali mengkonsumsi rokok, gejala-gejala yang mungkin terjadi adalah batuk-batuk, lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut mengabaikan perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi ketergantungan.

Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan psikologis. Gejala ini dapat dijelaskan dari konsep tobacco dependacy (ketergantungan rokok). Artinya, perilaku merokok merupakan perilaku yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini disebabkan sifat nikotin adalah adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan menimbulkan stress.10 Secara manusiawi, orang cenderung untuk menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat dipahami jika para perokok sulit untuk berhenti merokok.

II.6.2 Faktor-Faktor yang Mempersulit Berhenti Merokok 12,13

Semakin banyaknya perokok tentunya menjadi masalah kesehatan kita bersama. Bukan hanya perokok tetapi orang yang berada di sekitar perokok dapat mengalami dampak kesehatan yang sama. Berbagai penelitian menunjukkan 70-80 persen perokok sebenarnya ingin berhenti merokok, namun berbagai faktor yang kuat mempersulit terwujudnya hal ini. Sulitnya perokok untuk berhenti merokok patut dipahami apalagi bagi mereka yang sudah kecanduan. Butuh waktu dan proses yang bertahap untuk perokok menghilangkan kebiasaan buruknya ini. Bagi pecandu untuk berhenti merokok secara langsung tentunya sangat menyiksanya. Berikut merupakan faktor-faktor yang mempersulit seorang perokok untuk berhenti merokok:

  1. Lama Menghisap Rokok

Menurut Bustan (1997) merokok dimulai sejak umur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 10 tahun. Semakin awal seseorang merokok makin sulit untuk berhenti merokok. Rokok juga punya dose-response effect, artinya semakin muda usia merokok, akan semakin besar pengaruhnya. Apabila perilaku merokok dimulai sejak usia remaja, merokok dapat berhubungan dengan tingkat arterosclerosis. Risiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini. Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit. Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan.

  1. Social Pressure

Kebanyakan perokok hidup dalam lingkungan yang orang-orangnya yang merokok. Biasanya seorang anak dapat mulai merokok akibat melihat dan adanya ajakan dari orang lain. Jika orang tua anak tersebut merokok tentunya anak akan melihat terus perilaku dari orang tuanya ini. Selain melihat anak juga bisa terkena pajanan asap rokok orang tuanya dari kecil. Sehingga lama kelamaan pola pikir anakpun akan sama dengan orang tuanya untuk ikut merokok. Terkadang ada orang tuanya yang merokok tetapi anaknya tidak merokok atau sebaliknya orang tua tidak merokok tetapi anaknya merokok. Hal ini bisa disebabkan akibat tekanan dari lingkungan anak sendiri. Bisa jadi akibat dari pengaruh teman sehingga timbul pikiran untuk merokok.

  1. Promosi Rokok

Iklan rokok benar-benar bebas di negeri ini. Lihatlah sepanjang jalan tol terpampang iklan rokok dari mulai yang nempel di tiang listrik, reklame-reklame dengan ukuran besar di seputar pusat kota dan pusat keramaian, iklan media cetak, radio, dan televisi. Di negara-negara Eropa tampaknya iklan rokok justru mulai dilarang untuk beberapa media. Lihatlah balap tim F1 Ferrari yang disponsori oleh sebuah merek rokok dipaksa untuk melepas logo rokok itu dari badan jet darat mereka. Dan, mereka bisa mengikuti peraturan itu. Inilah mungkin salah satu yang membuat negara kita menjadi konsumen rokok terbesar ke-3 di dunia.

  1. Kecanduan dari nikotin (Efek Psikoaktif)

Faktor ketagihan nikotin pun turut mempengaruhi terganggunya rasionalitas para perokok tersebut. Nikotin yang terhisap bersama rokok akan diterima oleh reseptor otak yang kemudian melepaskan zat dopamine. Zat ini memberikan efek nikmat dan menenangkan. Pada saat tidak merokok, kadar dopamine juga menurun sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman serta stress. Akibatnya perokok kembali harus merokok.

  1. Stress

Banyak alasan awal para perokok ditanya apa yang menyebabkan mulanya dia merokok jawabannya adalah stress. Stress menjadi pemicu orang-orang untuk merokok terutama para remaja yang masih mengalami masa-masa labil. Kebanyakan remaja-remaja ini memiliki banyak masalah kemudian untuk melepaskan diri dari masalah tersebut untuk sesaat diambilah jalan pintas dengan merokok. Lama kelamaan tentunya merekapun menjadi pencandu rokok juga sehingga sulit untuk berhenti merokok.

  1. Harga Rokok Murah

Cukai rokok di Indonesia itu sangat rendah dibanding negara lain. Di Amerika Serikat, cukai rokok dibandrol sangat tinggi. Ada dua keuntungan yang bisa didapat: pendapatan negara bisa naik dan jumlah perokok menurun.

19 Responses to “Tugas IKM; Tinjauan Pustaka Rokok dan Peraturan Terkait Rokok”


  1. 1 anisa widya putri Mei 5, 2013 pukul 8:52 pm

    selamat malam, boleh minta daftar pustaka nya? untuk bantuan tugas akhir. terima kasih banyak atas bantuannya.

  2. 2 CS Juni 1, 2013 pukul 11:16 am

    izin copas ya mbak,buat baca2., i’m a smoker hehee..tq

  3. 3 Masagus Made Agung Al-Palimbani Oktober 22, 2013 pukul 3:00 pm

    Made.agung29@gmail.com
    mohon kerjasamanya, saya sedang melakukan penelitian berkaitan hal ini

  4. 4 nasri November 24, 2013 pukul 8:06 pm

    mnta referensinya mba,,,

  5. 8 windu April 5, 2014 pukul 10:06 am

    kak mau daftar pustaka yang ini juga dong untuk referensi, terima kasih sebelumnya. hehe.
    email saya: windumasardi@gmail.com

  6. 9 tant April 20, 2014 pukul 5:17 pm

    mbak minta daftar pustakanya yaa hehe ftantio9@gmail.com terimakasih

  7. 14 Irwoiioz Teouhoqm Desember 5, 2014 pukul 2:32 pm

    Kebetulan skripsi saya ada hubungannnya dengan rokok. Mohon minta daftar pustakanya. bebbob.bobbeb@gmail.com. Secepatnya ya. 🙂

  8. 16 rija Mei 22, 2015 pukul 7:12 pm

    terimakasih sangat membantu,, 😉 boleh minta pustakanya kak?

  9. 17 loan awalia nahdliyah Februari 15, 2016 pukul 9:12 am

    saya lagi penelitian jadi butuh referensi tentang rokok karna mencari bukunya susah,jadi boleh minta daftar pustakanya ga ..trimakasih sangat membantu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Selamat datang!!

Rizma Adlia Syakurah,

Ini semua tentang Ma dan hal hal yang berputar disekeliling Ma.
tentang seorang Ma.

Mau nge-OOT, sini aja.

Kumpulan Foto,,

Quote yang Ma suka!

Blog fave-nya Ma!!

Kategori!!

Kumpulan cerita Ma,,

Hasil ronde,,

Edan banget, yet, I Love it,,!!

web stats

Makasih banget buat

  • 769,735 orang

Just an encouragement,,

Hindari rokok sebisanya. Sudah merokok? Merokoklah dengan manusiawi.
Di sini anti rokok mas/mbak,,
mari dimatikan rokoknya,,

Berdiskusilah secara dewasa...
Ga terima ad Hominem!
terimanya duit dan makanan,,

Lembar Verifikasi?