Anger, it eats you alive.
But you just can’t help it.
Anger, you just want to make them pay.
You want to make them hurt, real bad.
You have all the tools to make them suffer.
All you need is to say the word, and it’s done.
How tempting, how tempting.
Well I’m no saint, you know.
But I despise to be in the same level.
“Jika kamu mampu mengalahkan musuhmu, jadikanlah maaf sebagai ungkapan syukurmu,,” Nahjul Balaghah, Imam Ali kw
Gimana caranya sih bisa begitu? Ma bukan orang yang sebaik itu, dan kemampuan untuk membalas itu rasanya menyenangkan sekali, karena orang yang menyakiti itu bisa dibalas se-maksimal mungkin. Sebenernya Ma tipe orang yang ‘sesungguhnya azabku amatlah pedih’, tapi seperti yang pernah Ma bilang ke salah satu orang yang nyebelin periode WP dulu, yang kaya gitu itu miliknya Allah, bukan untuk dipraktekkan sama manusia.
Tapi kan orang yang jahat sama Ma gak meng-consider perasaan Ma? Jadi harusnya dia udah terima semua konsekuensi dari perbuatannya. What would they expect? A hug and a blessing? YANG BENER AJA! Pake berbagai pembenaran kelakuan pulak, dengan menyisipi kenapa Ma layak diperlakukan kaya begitu. Udah deh, salah ya salah aja, ngeles dan nyari pembenaran itu bikin orang pengen bales dendam lebih parah, tauk!
Imam Ali, Ma minta maaf ya belom bisa begitu. Tapi Ma berusaha untuk gak membalas semaksimal yang Ma bisa dan Ma inginkan. Padahal sekarang Ma pengen banget ngebales secara maksimal.
Rizma Adlia Syakurah,








0 Tanggapan ke “Anger.”