Masa depannya bukan miliknya, tapi milik mereka yang menyusun alur hidupnya secara spesifik tentang apa yang harus dicapai, kemana harus melangkah, juga bagaimana harus membentuk dan memimpikan masa depan.
Sikapnya bukan miliknya, tapi milik orang-orang yang bagaimana harus bersikap.
Tubuhnya bukan miliknya, tapi milik orang yang memaksanya untuk mengubah tubuhnya sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tersebut.
Pilihannya bukan miliknya, tapi milik orang yang menentukan boleh atau tidak dia memilih presiden atau gubernur tahun itu.
Perasaannya bukan miliknya, tapi milik orang-orang yang mengekangnya untuk mengekspresikan apa yang dia rasa, dan sudah memilihkan perasaan apa yang harus ditampilkan dan dikatakan.
Kepercayaannya bukan miliknya, tapi milik seseorang yang mengatakan apa yang harus dipercaya dan apa yang tidak.
Hidupnya bukan miliknya, tapi milik dia, mereka, siapapun yang merasa memiliki hak untuk mengatur hidupnya.
Dan hal itu dimulai saat dia tidak berusaha melawannya, dan memilih untuk menjadikan hidupnya miliknya.

Rizma Adlia Syakurah,








*speechless*