Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan/atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang mengkonsumsi obat antihipertensi.1
Sampai saat ini, prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 5-10%, sedangkan tercatat pada tahun 1978 proporsi penyakit jantung hipertensi sekitar 14,3% dan meningkat menjadi sekitar 39% pada tahun 1985 sebagai penyebab penyakit jantung di Indonesia.2 Pada Peringatan Hari Hipertensi 2007 di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP (K) menyatakan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-21%.2
Sebanyak 85-90% kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya atau disebut sebagai hipertensi primer (hipertensi esensial atau idiopatik). Hanya sebagian kecil hipertensi yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi sekunder). Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder. Data yang tersedia pun sangat tergantung pada lokasi di mana penelitian itu dilakukan. Diperkirakan terdapat sekitar 6% pasien yang menderita hipertensi sekunder, sedangkan di pusat rujukan dapat mencapai sekitar 35%.3
Bila tidak diatasi, tekanan darah tinggi akan mengakibatkan jantung bekerja keras hingga pada suatu saat akan terjadi kerusakan yang serius. Otot jantung akan menebal (hipertrofi) dan mengakibatkan fungsinya sebagai pompa menjadi terganggu, selanjutnya jantung akan berdilatasi dan kemampuan kontraksinya berkurang, yang pada akhirnya akan terjadi gagal jantung. Gagal jantung adalah keadaan ketidakmampuan jantung sebagai pompa darah untuk memenuhi secara adekuat kebutuhan metabolisme tubuh.4
Gagal jantung yang disebabkan oleh hipertensi dikenal pula sebagai penyakit jantung hipertensi (Hypertension Heart Disease). Penyakit jantung hipertensi ditandai dengan adanya hipertrofi ventrikel kiri jantung sebagai akibat langsung dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh perifer dan beban akhir ventrikel kiri. Faktor yang mempengaruhi proses terjadinya hipertrofi ventrikel kiri adalah derajat dan lamanya peningkatan tekanan diastolik. Pengaruh faktor genetik pada proses ini lebih jelas. Fungsi pompa ventrikel kiri selama hipertensi juga berhubungan erat dengan hipertrofi ventrikel kiri. 4
2. 1. Definisi
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan/atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolic pada seseorang yang tidak sedang mengkonsumsi obat antihipertensi.1
2. 2. Epidemiologi
Sampai saat ini, prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 5-10%, sedangkan tercatat pada tahun 1978 proporsi penyakit jantung hipertensi sekitar 14,3% dan meningkat menjadi sekitar 39% pada tahun 1985 sebagai penyebab penyakit jantung di Indonesia.2 Pada Peringatan Hari Hipertensi 2007 di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP (K) menyatakan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-21%.2
Prevalensi hipertensi tergantung pada perbandingan komposisi ras dalam populasi penelitian dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan kondisinya. Dalam populasi suburban kulit putih seperti pada studi Framingham, hampir 1/5 populasi memiliki tekanan darah >160/95 mmHg, sedangkan hampir ½ populasi memiliki tekanan darah >140/90 mmHg. Bahkan prevalensi yang lebih tinggi lagi telah didokumentasikan dalam populasi bukan kulit putih. Pada wanita, prevalensi hipertensi berkaitan erat dengan faktor usia, di mana terjadi peningkatan prevalensi hipertensi pada wanita berusia >50 tahun. Peningkatan prevalensi ini diperkirakan berhubungan dengan perubahan hormonal akibat menopause, meskipun mekanismenya masih belum jelas. Adapun perbandingan frekuensi kejadian hipertensi antara wanita dan pria adalah 0,6:0,7 pada usia 30 tahun dan 1,1:1,2 pada usia 65 tahun.5
2. 3. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
- Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.6
- Hipertensi sekunder. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, sindroma Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.6
2. 4. Klasifikasi
Berdasarkan Joint National Committee VII, hipertensi diklasifikasikan sebagai berikut:
| Kategori | TD Sistolik | TD Diastolik | |
| Normal | <120 mmHg | dan | <80 mmHg |
| Prehipertensi | 120-139 mmHg | atau | 80-89 mmHg |
| Hipertensi stage I | 140-159 mmHg | atau | 90-99 mmHg |
| Hipertensi stage II | ≥160 mmHg | atau | ≥100 mmHg |
Berdasarkan WHO-ISH, klasifikasi hipertensi adalah sebagai berikut:
| Kategori | TD Sistolik | TD Diastolik |
| Optimal | <120 mmHg | <80 mmHg |
| Normal | <130 mmHg | <85 mmHg |
| Normal tinggi | 130-139 mmHg | 85-89 mmHg |
| Derajat 1 (ringan) | 140-159 mmHg | 90-99 mmHg |
| -subgrup borderline | 140-149 mmHg | 90-94 mmHg |
| Derajat 2 (sedang) | 160-179 mmHg | 100109 mmHg |
| Derajat 3 (berat) | ≥180 mmHg | ≥110 mmHg |
| Hipertensi sistolik | ≥140 mmHg | <90 mmHg |
| -subgrup borderline | 140-149 mmHg | <90 mmHg |
2. 5. Manifestasi Klinis
Peningkatan tekanan darah terkadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Selain peningkatan tekanan darah, gejala-gejala lain yang sering ditemukan antara lain adalah6:
- Sakit kepala
- Epistaksis
- Telinga berdengung
- Rasa berat di tengkuk
- Susah tidur
- Mata berkunang-kunang
2. 6. Diagnosis
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dilakukan tiga kali pengukuran tekanan darah dalam interval 1-2 minggu atau 2 hari berturut-turut dengan pengukuran sebanyak dua kali atau lebih dalam jarak waktu lebih dari 2 menit pada masing-masing pengukuran.7
2. 7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis hipertensi antara lain adalah6,7:
- Pemeriksaan laboratorium
- Darah perifer lengkap
- Kimia darah (kalium, natrium, ureum, kreatinin, gula darah puasa/pp 2 jam, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, asam urat)
- Urinalisis
- Rontgen thorax PA/BNO
- Elektrokardiografi
- Echocardiografi
- Funduskopi mata
- USG ginjal dan saluran kemih
2. 8. Komplikasi
Komplikasi atau kerusakan organ yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi antara lain1,6:
- Hipertrofi ventrikel kiri
- Infark miokard
- Angina pektoris
- Gagal jantung
- Riwayat revaskularisasi koroner
- Aterosklerosis pembuluh darah
- Nefropati
- Retinopati
- Stroke
- TIA (transient ischemic attack)
2. 9. Penatalaksanaan
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik <140 mmHg dan tekanan diastolik <90 mmHg dan mengontrol faktor risiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat antihipertensi.6
Kelompok risiko dikategorikan menjadi6:
A : pasien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1, 2, atau 3, tanpa gejala penyakit kardiovaskular, kerusakan organ, atau faktor risiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan, maka harus diberikan obat antihipertensi.
B : pasien tanpa penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ lainnya, tapi memiliki satu atau lebih faktor risiko, namun bukan diabetes melitus. Jika terdapat beberapa faktor maka harus langsung diberikan obat antihipertensi.
C : pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ yang jelas.
Faktor risiko1,6:
- Usia (laki-laki >55 tahun, perempuan >65 tahun)
- Merokok
- Dislipidemia
- Obesitas (IMT>30)
- Inaktivitas fisik
- Diabetes melitus
- Jenis kelamin (pria dan wanita menopause)
- Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini (laki-laki <55 tahun atau perempuan <65 tahun)
- Mikroalbuminuria atau LFG <60 ml/menit
Penatalaksanaan hipertensi berdasarkan klasifikasi risiko6:
| TD (mmHg) | Kel. Risiko A | Kel. Risiko B | Kel. Risiko C |
| 130-139/85-89 | Modifikasi gaya hidup | Modifikasi gaya hidup | Dengan obat |
| 140-159/90-99 | Modifikasi gaya hidup | Modifikasi gaya hidup | Dengan obat |
| ≥160/≥100 | Dengan obat | Dengan obat | Dengan obat |
Modifikasi gaya hidup merupakan cara yang cukup efektif, dapat menurunkan risiko kardiovaskular dengan biaya sedikit dan risiko minimal. Tatalaksana ini tetap dianjurkan meski harus disertai obat antihipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis obat. Langkah-langkah yang dianjurkan adalah6:
- Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (indeks massa tubuh ≥27)
- Membatasi alkohol
- Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit/hari)
- Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na/2,4 gr Na/6 gr NaCl/hari)
- Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90 mmol/hari)
- Mempertahankan asupan kalium dan magnesium yang adekuat
- Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan
Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur, kebutuhan, dan usia. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam, dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dapat mengontrol hipertensi terus-menerus dan lancar, melindungi pasien terhadap berbagai risiko dari kematian mendadak, serangan jantung, atau stroke akibat peningkatan tekanan darah mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang berisi kombinasi dosis rendah dua obat dari golongan yang berbeda. Kombinasi ini terbukti memberikan efektivitas tambahan dan mengurangi efek samping.6
Setelah diputuskan untuk memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan diuretik atau beta bloker. Jika respons tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai algoritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat yang lain. Jika tambahan obat kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan baik minimal setelah 1 tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara perlahan dan progresif.6
Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai terapi dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah ≥200/≥120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat di rumah sakit.6
Penatalaksanaan umum hipertensi mengacu kepada tuntunan umum (JNC VII 2003, ESH/ESC 2003), yaitu3:
- Pengelolaaan lipid agresif dan pemberian aspirin sangat bermanfaat.
- Pasien hipertensi pascainfark jantung sangat mendapat manfaat pengobatan dengan penyekat beta, penghambat ACE atau antialdosteron.
- Pasien hipertensi dengan risiko PJK yang tinggi mendapat manfaat dengan pengobatan diuretik, penyekat beta, penghambat kalsium.
- Pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ventrikel mendapat manfaat tinggi dengan pengobatan diuretik, penghambat ACE/ARB, penyekat beta dan antagonis aldosteron.
- Bila sudah dalam tahap gagal jantung hipertensi, maka prinsip pengobatannya sama dengan pengobatan gagal jantung yang lain yaitu diuretik, penghambat ACE/ARB, penghambat beta, dan penghambat aldosteron.
DAFTAR PUSTAKA
- Rani, Aziz, dkk. Panduan Pelayanan Medik. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI; 2006
- Miftah, Suryadipraja. Prevalensi Congestive Hearth Failure (CHF). Available from URL: library.usu.ac.id./download/fkm-hiswani12.pdf. Diakses tanggal 11 Oktober 2008.
- Sudoyo, Aru W, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI; 2006
- Price, Sylvia A. dan Wilson, Lorraine M. Patofisiologi Edisi 6 Volume I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2006.
- Kasper, dkk. Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Edition. The McGraw-Hill Company: 2005.
- Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius FK UI: 2001.
- Salim, Edi Mart dkk. Standar Profesi Ilmu Penyakit Dalam, Palembang: Lembaga Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI;2002:42
Rizma Adlia Syakurah,








0 Tanggapan ke “Hipertensi”